SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

‘Wonder Woman’ Lalimbue yang Membuka Tabir Isolasi Desa

533

teks / foto : syamsul kaedah

Adalah Ibu Sattariah. Pelaksana Kepala Desa yang per 31 Desember 2018 ditunjuk dan diamanahkan oleh Pemerintah Daerah untuk menahkodai Desa Ulu Lalimbue, Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Melanjutkan kepemimpinan Kepala Desa sebelumnya yang meninggal dunia di September 2018, empat bulan sebelumnya.

Sekilas, sosok perempuan ini sama seperti kaum hawa lainnya. Di rumah ia menjadi Ibu Rumah Tangga sekaligus Kepala Rumah Tangga untuk 4 orang anak-anaknya. Di waktu senggangnya, ia “menarik” pincara (rakit papan) alat penyeberangan sungai di wilayah setempat, hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Namun, saat tiba di Ulu Lalimbue, desa tempat ia memimpin, ia bertransformasi menjadi wanita pemimpin yang disegani.

Dia dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Tapi untuk hal yang menyangkut tugas dan tanggungjawabnya sebagai Kepala Desa, pribadi ini dikenal sebagai sosok yang tegas dan tidak neko-neko dalam mengambil keputusan.

Salah satu keputusan tepatnya adalah ketika ia melanjutkan pekerjaan/kegiatan Dana Desa 2018 yang sempat terbengkalai akibat kekosongan Kepala Desa. Itupun ia mulai di Januari 2019 saat dimana desa-desa lain telah menuntaskan semua kegiatan Dana Desa untuk tahun anggaran 2018.

Berkat kepiawaiannya sebagai seorang perempuan ia mampu menumbuhkan kembali semangat warganya dalam membangun desa. Alhasil dalam sekejab Ulu Lalimbue mampu menuntaskan ketertinggalan kegiatan Dana Desa 2018 yakni Pembangunan Jembatan Permanent (Rp284.562.000) serta kegiatan Sosialisasi Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak (Rp20.000.000).

Meskipun ia sempat diragukan, namun berkat tangan dingin dan determinasi tingginya untuk mencapai tujuan, ia membuktikan bahwa jika diberikan kesempatan, kaum wanita bisa bersaing dengan kaum pria, bahkan bisa lebih unggul.

Buktinya, kini Desa Ulu Lalimbue sudah mampu keluar dari keterisolasiannya. Melalui Dana Desa 2019, ia memper”cantik” jalur Jalan Poros Desa dengan Pembangunan Talud sepanjang 868 Meter (kiri kanan jalan) dengan biaya Rp522.736.000.

Sebagai seorang perempuan, tentu naluri keibuannya juga tidak lepas dalam sisi kepemimpinannya. Mungkin karena itulah ia melihat bahwa salah satu mata pencaharian utama warga desa yang kebanyakan juga dari kaum ibu-ibu adalah petani tambak, maka salah satu hasil percepatan pembangunan Dana Desa berikutnya di 2019 adalah Rehabilitasi/Normalisasi Tambak Ikan Warga sebanyak 40 Unit dengan anggaran Rp151.540.000.

Keberhasilan-keberhasilan ini tentu tidak mudah dicapai. Ini semua karena ada seorang wanita yang memperjuangkan dan mengelolanya, seorang Kepala Desa perempuan Sattariah.

Sebagai seorang Kepala Desa, dia selalu melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan implementasi kegiatannya. Keberpihakannya terhadap kaum perempuan juga tergambar melalui pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Stunting melalui dana Desa sebesar Rp13.400.000. Ia bersama 40 orang kaum perempuan di desa dari berbagai latar belakang profesi antusias mengikuti kegiatan tersebut.

Semua proses ini ditunjukkan untuk memberdayakan warga desanya. Dengan caranya itu ia ingin mengajak warga turut bersama membangun Ulu Lalimbue, menjiwai desa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kedamaian jiwa dan hatinya ketika ia bermukim tinggal di dalamnya.

“Kalau bukan kita yang membangun, siapa lagi!”, katanya.

Ia menyadari bahwa keberhasilan yang dicapai sekarang ini berkat dukungan dari warga desa. Kekuatannya lahir dalam julukannya “Wonder Woman” tentu karena di belakangnya ada kebersamaan dari warga Desa Ulu Lalimbue. *

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More