SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Wa Ati, Perempuan Pengumpul Batu Itu

231

teks : s.darampa. foto : zhulman.

Pagi masih temaram. Pekat dingin masih mengigit kala Wa Ati, perempuan paruh baya itu, mengayun langkah menuju tempat kerjanya, menjadi pengumpul batu di bantaran kali Desa Lambiku Kecamatan Napabalon Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara yang telah menyita sebagian besar waktunya, utamanya di masa paceklin karena kemarau.

Bersama sang suami, tante dan iparnya. Saban hari berendam di dasar kali (sungai), dengan jari-jari tangannya merayapi batu-batu kecil yang tampak putih bersih itu tergenggam dalam kepalnya. Satu, dua atau tiga biji, yang secara perlahan digosokkan ke arus bawah, lalu dilontarkan ke gundukan pasir yang tak tersentuh deras air.

Begitulah. Lontaran demi lontaran. Memberi bunyi tumbukan yang bersaing dengan gemericik air mengalir. Yang memberi pemandangan sehari-hari di balik punggung bukit dari Wisata Air Terapi Lambiku.

Untuk mencapai obyek wisata yang dikelola dengan menggunakan dana desa 2019 ini hanya membutuhkan waktu 20 menit dari Kota Raha. Pas, ketika tiba dekat lapangan Desa Lambiku, belok kiri dengan jarak 900 meter untuk mencapai permandian tersebut.

Kembali ke perempuan tangguh itu. Wa Ati bersama dengan dua partner lainnya, mengaku mampu mengumpulkan batu-batu sebesar sekepalan tangan anak-anak itu sebanyak 4 kubik dalam dua atau tiga hari.

Malah, kalau full kerja, mulai pagi sampai sore, dengan membawa perbekalan, serta mengajak ketiga anak-anaknya, maka hanya membutuhkan waktu satu hari untuk 4 kubik.  Tetapi itu jarang sekali terjadi, kecuali kalau memang ada keperluan khusus untuk menutupi kebutuhan itu dengan cepat.  

Setiap 4 kubik, setara dengan satu kali angkut truk yang akan membawa batu-batu tersebut sebagai timbunan pelapis pada jalan-jalan rintisan. Pada setiap 1 truk diangkut, Wa Ati menerima Rp 400 ribu dari sopir / pembeli. Dengan hasil peluh ini, kemudian dia bagi bersama dengan bibinya dan adik iparnya.

Jika dikalkulasi dalam setiap bulan, Wa Ati dan rekannya mampu mengumpulkan 8 kubik atau setara 2 truk selama sepekan. Berarti dalam sebulan (4 pekan x 2 truk) = 8 truk. Dari 8 truk ini kemudian dilego Rp 400 ribu, maka total pendapatan Wa Ati sebanyak Rp 3,2 juta dalam sebulan. Angka ini, Rp 3,2 juta, dibagi tiga (bersama bibi dan adik iparnya).

Pendapatan ini dikalkulasi minim, malah menurutnya angka tersebut bisa dua kali lipat, yakni sekitar Rp 6 atau 7 juta perbulan. Apalagi memang ada suaminya yang mendampinginya, utamanya untuk memecahkan batu-batu besar dengan tenaga ayunan pemukul yang besar pula.

Wa Ati mengaku bahwa pekerjaan ini dilakoninya sudah cukup lama. Namun ada musimnya katanya. Yaitu, ada musim para pemilik truk membutuhkan batu hasil kumpulannya. Ini terkait dengan musim proyek, musim pencairan dana.

Kedua, pekerjaan pengumpul ditinggalkannya buat sementara waktu kalau tiba musim panen jambu mete. Menurutnya, mete dari hasil kebunnya atau kebun orang lain dapat dipetiknya dengan sistem bagi hasil. Karena mete itu bersifat musiman, satu kali setahun, kecuali kalau ada buah sela tapi itu biasanya tidak banyak.

Yang sangat terasa bagi Ati adalah ketika musim paceklik, kemarau, dimana lahan-lahan pada kering sehingga tidak memungkinkan untuk berkebun, seperti kebun ubi, jagung, kacang tanah dan lainnya. Maka pilihan utamanya adalah menjadi pengumpul batu.

Dengan pilihannya itu, dirinya mengaku tidak merusak ekosistem sungai, justru malah memperlancar lajunya air hingga ke hilir. Karena batu-batu ini terikut arus dari hulu. Dimana pada sepanjang bantaran hulu, batu-batu tebing yang menggunung itu seringkali berguguran dan semuanya hinggap di badan sungai. 

“Coba lihat batu-batu ini, berbeda dengan batu sungai lainnya. Disini warna putih, menyerap lumpur sehingga banyak dipakai untuk dasar kolam. Juga sebagian untuk ‘trotoar’ jalan, karena memang pecahan dari batu-batu karang yang lama mengendap di bagian hulu,” ceritanya seraya berkemas seraya memanggil anaknya yang masih asyik bermain di bantaran.

Dan, ketika cahaya matahari sudah hilang di balik bukit, maka Ati dan kelompok pengumpul batu yang lain juga melangkah pulang. Seiring dengan makin sepinya kawasan permandian wisata yang juga mulai ditinggalkan para pengunjungnya.*   

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More