SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Membincang Stunting di Pereo’a bersama Tenaga Ahli PSD

139

teks / foto : syamsul kaedah

Konvergensi Pencegahan Stunting di Desa merupakan salah satu program prioritas Dana Desa. Sebagaimana juga tertuang di dalam Pokok-Pokok Kebijakan Pelayanan Sosial Dasar Direktorat Pelayanan Sosial Dasar Kemendesa PDTT Tahun 2020-2024.

Kaitannya dengan hal tersebut, Tenaga Ahli Madya (TAM) Pelayanan Sosial Dasar (PSD) Prov. Sulawesi Tenggara, Ibu Harwanti Kusa melakukan kunjungan kerja di Desa Pereo’a, Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Kunjungan kerja tersebut sekaligus dimanfaatkan oleh Kak Raisa (sapaan akrab Ibu Harwanti Kusa) sebagai ajang On Job Training (OJT) kepada Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan Kader Posyandu.

Dalam kegiatan yang terbilang sangat sederhana itu, turut hadir Ibu-Ibu Kader dari desa tetangga seperti Desa Lalimbue, Sambaraasi dan Lalimbue.

panduan halamman

“Ibu-Ibu yang hadir pada kesempatan ini adalah para pejuang kesehatan di desa, di pundak Ibu-Ibu terletak tugas dan tanggungjawab yang amat penting” ungkap TAM PSD Sultra saat menyapa Ibu-Ibu Kader.

TAM PSD Prov. Sultra itu menyampaikan bahwa Tugas KPM di antaranya adalah :

  • Mensosialisasikan kebijakan konvergensi pencegahan stunting di Desa kepada masyarakat di Desa, termasuk memperkenalkan tikar pertumbuhan untuk pengukuran panjang/tinggi badan baduta sebagai alat deteksi dini stunting.
  • Mendata sasaran rumah tangga 1.000 HPK.
  • Memantau layanan pencegahan stunting terhadap sasaran rumah tangga 1.000 HPK untuk memastikan setiap sasaran pencegahan stunting mendapatkan layanan yang berkualitas.
  • Memfasilitasi dan mengadvokasi peningkatan belanja APBDes utamanya yang bersumber dari Dana Desa, untuk digunakan membiayai kegiatan pencegahan stunting berupa layanan intervensi gizi spesifik dan sensitif.
  • Memfasilitasi suami ibu hamil dan bapak dari anak usia 0-23 bulan untuk mengikuti kegiatan konseling gizi serta kesehatan ibu dan anak.
  • Memfasilitasi masyarakat Desa untuk berpartisipasi aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program/kegiatan pembangunan Desa untuk pemenuhan layanan gizi spesifik dan sensitif.
  • Melaksanakan koordinasi dan/atau kerjasama dengan para pihak yang berperan serta dalam pelayanan pencegahan stunting, seperti bidan Desa, petugas puskesmas (ahli gizi, sanitarian), guru PAUD dan/atau perangkat Desa.

Dalam hal pencegahan stunting di Desa, KPM harus selalu berkoordinasi dengan Pemerintahan Desa, unit penyedia layanan kesehatan dan pendidikan serta berbagai kelompok masyarakat di Desa yang peduli dengan upaya pencegahan stunting. Pendamping masyarakat Desa bersama dengan KPM memfasilitasi pemerintah Desa, BPD dan masyarakat Desa untuk membentuk Rumah Desa Sehat.

Rumah Desa Sehat selanjutnya disingkat RDS adalah sekretariat bersama yang merupakan wahana/forum bagi pelaku atau pegiat pemberdayaan masyarakat Desa berbasis karakteristik lokal yang dikelola oleh masyarakat sebagai upaya peningkatan akses informasi dan pemenuhan kualitas layanan sosial dasar bagi masyarakat Desa. Yang dimaksud dengan pelaku atau pegiat pemberdayaan masyarakat Desa adalah Kader Posyandu, guru PAUD, kader kesehatan, unit layanan kesehatan, unit layanan pendidikan, kader PKK, Karang Taruna, tokoh masyarakat, dan berbagai kelompok masyarakat yang peduli dalam upaya pencegahan stunting. RDS dimaksudkan untuk membantu pemerintah Desa dalam pengelolaan sumber daya manusia utamanya di bidang kesehatan.

Melalui kesempatan itu pula, Pemerintah Desa Pereo’a sangat berterimakasih atas kunjungan TAM PSD Sultra. Kepala Desa Pereo’a berharap kunjungan tersebut dapat memotivasi Ibu-Ibu Kader untuk maksimal dalam menjalankan tugasnya.

Khusus untuk Desa Pere’oa, tahun 2019 pada dasarnya sudah mulai mencanangkan gerakan pencegahan stunting. Hal ini dapat terlihat melalui pendanaan di APBDesa 2019 sudah ada dukungan Penyelenggaraan Posyandu (Makanan Tambahan, Kelas Ibu Hamil, Kelas Lansia dan Insentif Kader Posyandu) serta Kegiatan Sosialisasi Pencegahan & Penanganan Stunting).

Selain itu, program pembangunan kesehatan lainnya seperti pengadaan alat-alat kesehatan, pembangunan sumur bor, pengadaan tendon air bersih dan pembangunan jamban warga.

“Kaitannya dengan kesehatan, kami sudah merealisasikan beberapa kegiatan melalui Dana Desa 2019 diantaranya Bantuan Insentif Kader Posyandu, Kegiatan Sosialisasi Pencegahan & Penanganan Stunting, Pengadaan Alat-Alat Kesehatan dan Pengadaan Tandon Air Bersih untuk warga” ungkap Kades Pereo’a.

Lebih jauh Burhanuddin, Kepala Desa Pere’oa menjelaskan bahwa di tahun 2020 nanti program kesehatan khususnya program pencegahan stunting akan terus ditingkatkan. Hal ini tergambar melalui hasil Rembuk Stunting Desa yang menghasilkan rumusan program konvergensi stunting di antaranya adalah peningkatan dukungan penyelenggaraan posyandu, bantuan insentif dan peningkatan kapasitas KPM maupun kader kesehatan desa, serta dukungan penyelenggaraan RDS.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More