SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Kampung Wisata di Aliran Sungai BoroBoro

51

teks / foto : la ode alani + jupriadi

Existing Condition :
Entah di zaman apa, pernah ada hunian komunitas lokal pada bantaran aliran sungai Desa BoroBoro Kecamatan Ranometo Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara.

Namun seiring tergerus waktu, hunian komunitas lokal terus kemudian berpindah pada jalan poros Ranometo – Motaha dan RawaAopa, sehingga dalam perjalanan waktu pemukiman itu kemudian menjadi hutan belantara.

Namun bekas-bekasnya masih langgeng, baik berupa jalan poros yang menembus puncak gunung hingga melingkar ke timur Kecamatan Wolasi, maupun jalanan bebatuan yang warga setempat lebih senang menyebutnya Jalan Jepang yang berada diseberang aliran sungai.

Aliran kali yang terus meluncurkan airnya hingga ke hilir dengan melintasi poros Ranometo – Motaha tetap jernih sepanjang musim. Bahkan batu-batu terlihat jernih di dasarnya, apalagi dipagari dengan tebing-tebing batu yang masih padati vegetasi pepohonan ke arah hulu.

Potensi :
Memanfaatkan aliran sungai tersebut, sudah sejak lama telah berdiri sejumlah gazebo dan warung-warung, dengan segala fasilitasi pendukungnya. Meski fasilitas tersebut terlihat masih sederhana, tetapi sudah lebih dari cukup untuk menikmati jernihnya air sungai untuk berendam dari segala tingkatan usia.

Pada pos pertama, terlihat ada pipa palang. Untuk menjadi penghetian kendaraan. Setiap kendaraan berapa pun penumpangnya dikenakan biaya pembuka sebanyak Rp 20.000. Angka ini terhitung murah, dan untuk roda dua cukup Rp 5.000.

Begitu lewati palang,…maka boleh leluasa memarkirkan kendaraan pada lahan-lahan yang telah disediakan dengan keamanan dijamin 100 persen oleh penjaga palang sekaligus sebagai pemilik lahan.

Pada pos kedua. Silahkan memilih sejumlah pondokan, atau gazebo. Setiap gazebo dengan ukuran yang cukup untuk 5 – 10 orang rombongan dikenakan biaya Rp 50.000. Ini dapat digunakan sampai sore atau malam, atau sepuasnya.

Tetapi kalau mau menikmati lebih eksotis lagi, berendam agak ke hulu dengan beratapkan rimbunan pohon-pohon lebat, maka bisa melangkah ke pos tiga, kira-kira 70 meter dari pos dua.

Pemilik 50an gazebo yang juga Ketua TPID (tim pengelola inovasi desa} Kec.Ranometo Nursalam A.Md., mengaku kalau hari libur atau hari ahad maka pengunjung banyak sekali, bisa sampai seratusan orang. Kira-kira total pendapatannya sampai Rp 750.000 perhari libur itu.

Tetapi kalau hari biasa, Senin – Jumat, hanya ada satu atau dua rombongan. Kecil sekali pemasukan, sehingga ia sendiri tidak menyiapkan makanan yang berlebihan.

Solusi :
Yang menjadi sedikit kendala dalam pengelolaan wisata ini, adalah belum terjadinya transaksi pengelolaan antara pemilik lahan / pemilik gazebo dengan pemerintah desa. Sehingga Pemdes untuk menjadi bagian dari pengelola dengan menggunakan dana desanya masih mengalami jalan buntu.

Karena sebagian pemilik lahan / gezoba memang sudah setuju dengan kerjasama Pemdes yang nantinya rekomendasikan BUMDes sebagai manajerial.  Bisa menggunakan dana desa untuk membenahi sejumlah fasilitas dan mempercantik area wisata.

Untuk itu, maka dibutuhkan kerjasama berbadan hukum antara pemilik lahan  / gazebo dengan Pemdes / BUMDes. Dimana perjanjian ini akan difasilitasi oleh Tripika Ranometo agar berkekuatan hukum.

Pihak Kades BoroBoro sendiri sudah berkali-kali mencari solusi terbaik agar pengelolaan wisata itu lebih baik lagi, sehingga bisa menggunakan dana desa untuk pembenahan tempat.

Apalagi Kampung Wisata Pinggiran Kali ini selalu ramai dan dipadati para pengunjung, utamanya warga dari Kota Kendari. Karena hanya membutuhkan waktu 15 menit dari Bandara Sultra untuk sampai di tujuan wisata. *

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More