SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Hidup Eksentrik Sang Penjaga Hutan Adat di Kaki Bukit Marahimbing

68

teks / foto : muhlis paraja.
editor : sultandarampa.

PAO – SC. Seorang lelaki tua yang masih gesit dan ulet pensiunan PNS Dinas Pertamanan Kota Makassar Sulsel memilih jalur hidupnya sebagai penjaga hutan adat.

Yaitu kawasan ekosistem hutan yang masih bervegetasi padat di wilayah Adat Marihimbing Dusun Pattallassang Desa Pao Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Hutan keramat ini terletak di kawasan puncak yang menjadi batas Kab.Sinjai di sebelah timur, Kab.Bone timur laut, serta di barat dan selatan adalah Kab.Gowa.

Nurdin, lelaki pensiunan itu memang lahir di Marahimbing, 02 Maret 1945. Dia tumbuh dan berkembang pada geografis yang sangat dingin, berkabut dan cukup jauh dari poros Sinjai – Malino (Gowa}.

Sekitar tahun 1965, ia merantau ke Makassar, (Ujungpandang}, dan setelah sekian lama hidup diibukota Propinsi Sulsel itu akhirnya memilih jadi PNS, yang kemudian ditempatkan di Dinas Pertamanan Kota.

Selang sekian tahun, memang sesekali pulang menjenguk keluarga dan kampung halamannya, yang memang masih sangat susah untuk diakses. Baik karena kondisi jalannya, maupun karena faktor keamanan, termasuk ‘penghadangan gaib’ di sepanjang jalan, apalagi ketika sudah melewati Kota Malino.

Ketika dia pulang karena liburan atau cuti tahunan, tak pernah lupa kebiasaan lamanya, kebiasaan sewaktu masih kanak-kanak dan remaja. Yaitu bercocok tanam, bersawah atau berkebun. Bahkan juga sudah mulai menanam sejumlah pohon pelindung pada lereng-lereng bukit yang sesekali ditumbuhi pinus.

Tahun dam masa pun berganti, apa yang pernah ditanamnya, di luar kawasan hutan keramat tersebut justru tumbuh dengan suburnya, seolah telah menjadi hutan baru yang memang bersambung dengan kawasan utama hutan adat.

Jadi persisnya, sejak tahun 2000, begitu dinyatakan tidak lagi mampu bekerja di lingkup PNS karena faktor usia, alias pensiun. Maka dia memilih pulang kampung, meski di kota juga memiliki asset hasil keringatnya selama menjadi pegawai negeri.

Dg Laloi (nama akrabnya di kampung dipakainya kembali} akhirnya telah membuat ‘istana’ baru di kawasan tersebut, kawasan perladangannya yang akan menjadi sumber penghasilannya untuk menutupi biaya hidupnya selain gaji pensiunnya.

Menurutnya, setelah bergelut sekian lama di kebun dan menjaga hutan adat, justru kesibukannya bertambah, bukan menurun. Ia banyak beriteraksi dengan warga yang bermukim agak jauh di bantaran sungai pada Dusun Patallassang.

PLTMH miliknya yang dirakit sendiri

Ia banyak melayani sekaligus melakukan peringatan kepada siapa saja yang ingin memasuki kawasan hutan adat tersebut. Untuk itu, dia digelar sang juru kunci kawasan, atau sang penjaga hutan.

Salah satunya kesibukannya yang membuatnya seolah sudah lupa dengan umurnya, yaitu merakit sendiri PLTMH (pembangkit listrik tenaga hidup}. Dengan memanfaatkan sumber air yang melimpah tak jauh dari rumahnya.

Dengan PLTA mini itu, Dg.Laloi sudah bisa menikmati listrik sepuasnya tanpa perlu membayar beban iuran, pesawat televisinya terus-menerus on, dan sejumlah perabot dapurnya yang menggunakan aliran listrik.

Makanya, setiap saat menerima kunjungan para aktivis, termasuk aktivis agraria, berdiskusi dan menganalisa sejumlah persoalan nasional hasil menonton tayangan televisi di rumahnya di kaki bukit Marahimbing.

Ini memang gaya hidup eksentrik, serba berkecukupan, dapat menikmat dunia luar tanpa perlu ongkos yang mahal, tanpa perlu bayar iuran dan retribusi.

Dari pola inilah karena berkat jasa hutan adat mengingatkan kita tentang sebuah novel pendek ‘Di Kaki Bukit Cibadak karya Tohari*

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More