SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Bulu’ Tallua yang Kian ‘Menghilang’

217

teks & foto : muhlis paraja / aktivis masyarakat adat

Bagian selatan dataran tinggi Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, tepatnya dikaki gunung Bawakaraeng,  terdapat tiga bentuk tanah berbukitn yang menyerupai gunung nampak sejajar, masyarakat lokal menyebutnya, kampung tua “ Bulu’ Tallua” .

Secara administrasi kampung tua Bulu’ Tallua saat ini  masuk  di Desa Tonasa Dusun Langkowa Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.

Menurut pak Nasir selaku petani sekaligus tokoh masyarakat Tombolo Pao, yang saya temui dirumahnya di Kelurahan Pattapang, Minggu 17/03/2019, mengatakan, Bulu’ Tallua merupakan batas teritorial anta ra Lompo Pao, Balasuka dan Bulutana. Dengan alasan letak geografis Bulu’ Tallua berada ditengah, lalu dijadikan sebagai tempat perjanjian Sombayya Rigarassi, Sombayya Ribalassuka dan Karaeng Bulutana, isi perjanjian tersebut terkaiat dengan wilayah kekuasaan mereka masing-masing berdasarkan aliran air yang mengalir.

“Kemudian kampung Bulu’ Tallua ditahun 1600 masehi dihuni oleh Pute Ulu (rambut putih) merupakan anak dari penghuni pertama di kampung Tua Bulu’ Tallua. sirambut putih menurut pappasang tau rioloa  (cerita rakyat Tombolo Pao terdahulu),” ujar pak Bahruddin,tokoh asyarakat) di rumahnya, Sabtu 16/03/2109 malam.

Menurutnya, Pute Ulu dikenal sejak lahir rambutnya putih dan sangat cantik, lalu kemudian setelah beranjak dewasa si rambut putih ini menikah dengan anak dari Puanta Ripao.

Menurut Daeng Sonte, seorang yang pernah tinggal di kampung Bulu’ Tallua, berhasil saya temui, Sabtu 16/03/2019 dikebun anaknya Biringpanting, mengatakan,  tahun 1960 Bulu’ Tallua dihuni oleh tujuh keluarga yakni keluarga Daeng Sonte sendiri, Ruma’, Baso, Daeng Jelong, Daeng Jappa, Daeng Badu’.

Lanjut Daeng Sonte sembari melihat kepohon lantebung  (sejenis tumbuhan tebuh) yang berada disekitar kebun anakanya kemudian menunjuknya, dengan mengatakan, pohon tersebut adalah pohon yang dijadikan atap rumah Daeng Sonte waktu masih tinggal di Bulu’ Tallua.

Kopi, kayu manis, kentang, labu, masyarakat Bulu’ Tallua dulu tanam kemudian mereka jual di pasar Malino (sekarang pasar Malino sudah ditempati sekolah), saat  Pukul Empat subuh mereka sudah berangkat kepasar Malino bagi yang ingin menjual barang hasil pertaniannya dengan memikul. Ujar pak Wawancara dengan pak Muhammad, petani,  anak dari Daeng Jelong, senin 18/03/2019 rumah pak Muhammad di Biringpanting.  

Akhir tahun 1974 sampai 1975 petani di Bulu’ Tallua diberikan bibit pohon pinus oleh Yusuf Daeng Paewa atau biasa disapa oleh para petani Bulu’ Tallua, Mantri Yusuf, ia berasal dari Makassar dan merupakan pegawai kehutanan, Lanjut Daeng Sonte.

Bibit tersebut dibawah ke Bulu’ Tallua oleh Pak Baharuddin dengan menggunakan kuda (bahasa lokalnya, teke’ ) dengan upah Rp. 1.500/res, tutur pak Baharuddin, dirumahnya.

Kemudian para petani menanamnya bibit pinus tersebut disekitar kebunnya dan beberapa orang menanam dikebunnya masing-masing dengan diberikan upah sekali seminggu, tutur ibu Ramlah, istri Daeng Sonte sekaligus salah satu orang yang menanam bibit pohon pinus dengan model pengupahan demikian Sabtu 16/03/2019 malam, rumah pak Karim di Biringpanting.

Tahun 1978 Daeng Ruma’ dan Daeng Badu’ serta istri dan anak mereka adalah dua keluarga yang pertama meninggalkan kampung Bulu’ Tallua sebab seorang tentara yang bertugas sebagai babinsa di Desa Tonasa memberitahukannya bahwa mereka harus meninggalkan Bulu’ Tallua, lalu dipertegas dengan penyampaian langsung oleh Pak Sinyo’ yang berasal dari Jawa sekaligus pegawai kehutanan Kabupaten Gowa, dirumah Daeng Sa’bang. Pak Sinyo’ mengatakan kepada Daeng Ruma’ dan Daeng Badu’ bahwa, kalau ada yang membakar kayu akan dihukum. Perihal tersebut membuat Daeng Ruma’ merasa takut dan terpaksa harus meninggalkan Bulu’ Tallua. Pada akhirnya Daeng Ruma’ serta istri Daeng Rabiah dan kedua anaknya Hania dan Basri  pindah ke kampung Tanggana Romanga yang jaraknya kurang lebih enam kilometer dari Bulu’ Tallua. Daeng Ruma’ bermukim disana selama empat tahun dengan bermukim rumah-rumah kebun. Kemudian tahun 1982 Daeng Ruma’ dan keluarga pindah ke Biringpanting yang ia diami sampai saat ini, tutur Daeng Ruma’ Kamis 21/03/2019 malam, rumah Daeng Ruma’ di Biringpanting.

Tahun 1989-an Daeng Sonte dan ibu Ramlah harus terpaksa meninggalkan kampung halamanya yakni kampung Bulu’ Tallua sebab kampung dan kebunnya masuk kedalam klaim kawasan hutan tahun 1986. Keluarga beliau yang paling terakhir keluar dikampung Bulu’ Tallua diantara lima keluarga lainnya.

Alasan Daeng Sonte beserta keluarganya keluar, karena beliau merasa tidak aman sendiri dikampungnya karena banyaknya penculik ternak hingga pembunuhan warga.

“Wacana seperti ini membuat Daeng Sonte dan keluarganya merasa ketakutan dikampungnya sendirian dan akhirnya memutuskan untuk keluar dan tinggal di Biringpanting, lalu tidak lama kemudian Daeng Sonte pindah dikampung Lembang Bata, Garassi kampung istrinya, tak lama Kemudian Daeng Sonte Pindah Kembali di Biringpanting dan membangun rumah dan bergenerasi sampai saat ini,” lanjut Daeng Sonte.

Ketidakjelasan keluarga Daeng Sonte beserta keluarga lainnya setelah keluar dari kampung Bulu’ Tallua dia harus tinggal dimana-mana yang membuatnya harus hidup berpindah pindah beberapa tahun dengan ketidakjelasan.*

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More