SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

Batu Atas, Pulau ‘Di Kaki Langit’

73

teks / foto : yanti ruhiyat + wa ode salawati + fian

Batu Atas. Nusa yang jauh dari sorot mata walau menggunakan teropong secanggih apapun dari tempat berdiri pada ujung selatan wilayah eks Kesultanan Butun. Pulau yang sangat jauh dari daratan Kepulauan Buton, yang berdiri kokoh di gugusan segitiga karang dunia.

Itulah, negeri di kaki langit.

Inilah pemandangan kala mabuk berat

Untuk menjangkaunya, membutuhkan waktu-waktu tertentu, utamanya pada musim-musim teduh, seperti Agustus hingga Oktober. Lepas dari bulan itu, maka keganasan ombak Selat Flores tampak menggunung-gunung dengan buih yang memutih. Baik musim barat, apalagi musim timur.

Star dari Kota Baubau Sulawesi Tenggara, dapat ditempuh dengan menggunakan kapal kayu. Kota yang memiliki keraton terluas di Nusantara itu dicapai dengan dua jalur, dari Makassar dengan pesawat, atau dari Kendari dengan kapal cepat plus pesawat.

Perahu jenis lain

Kembali ke transportasi sederhana itu. Dulu, warga menyebutnya Lambo. Kapal jenis ini tahan terhadap goncangan gelombang, karena arsitekturnya sengaja didesaign untuk kebutuhan samudra.

Kalau musim teduh, dengan kondisi kapal dobel mesin, maka biasanya dapat ditempuh selama 6 – 7 jam lamanya. Dengan begitu, berarti bisa bersantai di kapal, masih bisa makan dengan enak sesuai bekal yang dibawa dari kota, atau sesukah hati untuk tidur-tiduran. Ya, termasuk selfi riah.

Sebaliknya, kalau musim barat atau musim timur. Tentu suasana ini berputar 180 derajat. Tak ada kenyamanan. Kapal terus berlaga dengan gelombang. Menari, berjoget, selayaknya kalau acara dangdutan di kampung-kampung.

Akibatnya bisa macam-macam. Ada yang tertidur tertelengkup. Ada yang berdiri sambil berpegangan di dinding kapal. Ada yang sibuk dengan perutnya dan tenggoraknya yang juga bergejolak. Dan sepanjang itu pula ‘rasa nyaman’ jauh dari impian.

Atau dengan tingkah aneh yang lain, bisa sekedar menatap sejumlah makanan yang terhampar dan kadang menimbulkan suara gemerincing lantaran diaduk ombak. Sekadar menatap, tidak ada selera untuk menyentuhnya, meski itu lapa-lapa (makanan khas Buton).

Masih pakai layar + mesin

Maka waktu tempuh pun dapat bergeser. Bisa jadi bukan 6 – 7 jam, bisa molor hingga 8 – 9 jam. Itupun kalau halauan tidak bergeser dari koordinat pelabuhan yang memang masih beberapa mil sudah disenternya.

Tetapi dengan tantangan seperti itu, bukan berarti orang akan ciut nyalinya untuk datang kedua kalinya. Justru banyak yang kesemsem, karena selalu terkenang masa-masa pahit sepanjang perjalanan. Itu pula yang dikesankan oleh rombongan Satgas Dana Desa bersama dengan TAPP P3MD-PID Sultra, Yanti Ruhiyat, yang didampingi oleh Wa Ode Salawati, Falix, Anex Wong dan lainnya. Sementara pendamping desa, sudah tentu disana menunggu.

Setelah matahari mulai menggapai horizon, maka rombongan ini sudah menatap dari jauh gundukan hijau kehitam-hitaman yang memanjang, yang seolah menyatu dengan kaki langit. Itulah pulau karang itu, Batu Atas, yang bebera tahun belakangan telah ditetapkan sebagai satu kecamatan dengan membawahi 7 desa.

Sebelum mencapai dermaga kayu, barisan warga sudah antrian menyambut sang tamu. Dan akhirnya, salaman-salaman pun terjadi, dan tak kurang dari rombongan itu baru menarik nafas panjang, “akhirnya sampai juga di daratan,” ucapnya loyo.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More