SulawesiChannel.com
Cepat, Akurat & Mencerahkan

200 KK Gagal Memanen Padi Sawah

141

teks / foto : kadet doni

Akibat banjir yang turut menerjang sejumlah kawasan pemukiman dan lahan-lahan pertanian di Sulawesi Tenggara, diantaranya juga meluluntahkan 150 hektar sawah yang ada di Desa Lalowosula Kecamatan Ladongi Kabupaten Kolaka Timur.

150 hektar sawah tersebut adalah pemilik atau pengelola sekitar 200 kepala keluarga petani yang tidak sempat lagi diselamatkan, karena keesokan harinya lahan-lahan padi yang sudah sangat siap dipanen itu berobah menjadi lautan air. 

Padahal sehari sebelumnya, sejumlah petani sudah turun ke sawah untuk memulai panen pada areal persawahan yang full irigasi ini. Memang sudah ada petani yang sudah mengirim beberapa karung gabah ke rumahnya sebagai hasil panen. Tetapi 95 persen semuanya tidak sempat menyelamatkan padi yang mulai menguning tersebut.

Kepala Desa Lalowosula, Suharyono membenarkan kalau seluruh areal kawasan persawahan yang padinya sudah siap panen ternyata gagal dituai lantaran pada malam harinya diguyur hujan keras yang disertai banjir bandang pagi harinya.

“Tidak ada lagi yang sempat diselamatkan, karena rencana panen raya itu dimulai beberapa hari, satu atau dua hari ke depan sudah mulai panen besar-besaran. Tetapi rencana itu tinggal kenangan, karena esoknya langsung diterjang badai banjir,” ceritanya ketika ditemui di Kantor Desa Lalowosula.

Ia mengaku tidak dapat berbuat banyak atas bencana yang terjadi secara tiba-tiba tersebut, dan memang tidak pernah diperkirakan banjir ini sangat dahsyat.

“Memang agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, memang selalu banjir, tetapi hanya menggenangi badan-badan jalan, atau hanya merendam areal sawah dalam batas-batas normal, tetapi tidak menenggelamkan batang-batang padi dan menghanyutkan kea rah hilir,” sedihnya.

Meski duka ini sangat terasa bagi warga desa, dengan harapan bahwa 200 KK ini akan mendapatkan lagi bibit padi dari pemerintah daerah untuk rencana musim tanam selanjutnya, tetapi masih ada yang dapat diselamatkan dari rendaman banjir, utamanya wilayah pemukiman.

“Dulu banyak yang tidak percaya ketika saya ngotot membangun drainase pada beberapa dusun dan ruas jalan desa. Akhirnya keyakinan saya terbukti, seandainya tidak ada drainase yang dibangun atas dana desa, maka seluruh pemukiman dan dusun di desa ini sudah pasti tenggelam, utamanya bagi rumah-rumah batu,” ungkapnya.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More